Zuhud dan Orientasi Masa Depan

 
Zuhud dan Orientasi Masa Depan
Sumber Gambar: dok.pribadi

Laduni.ID, Jakarta – Ketika manusia dilanda penyakit hubbuddunya, maka amalannya adalah dengan berzuhud. Zuhud adalah "raghaba an syai'in wa tarakahu" menghindari sesuatu dan meninggalkannya. Apa yang ditinggalkan? Menurut Ibnu Abbas RA ada tiga perkara, yakni:

1. Meninggalkan perhiasan (ترك الزينة)

2. Meninggalkan hawa nafsu (ترك الهوي)

3. Meninggalkan dunia (ترك الدنيا)

Menurut Al-Ghazali, zuhud ialah sebuah tindakan penolakan seseorang terhadap sesuatu yang digemari (dunia) demi mendapatkan sesuatu yang lebih berharga (akhirat). Dalam hal ini yang dimaksud penolakan adalah menolak untuk sampai pada level cinta dunia (hubbuddunya) bukan apriori melainkan hanya menggunakan dunia beserta segala isinya dengan sewajarnya. Tidak berlebihan dan sama sekali tidak menjadi penghalang dirinya untuk mendekat kepada kepada Allah SWT.

Berdasarkan pendapat Imam Al-Ghazali diatas, zuhud itu bukan mengabaikan duniawi secara materi melainkan bagaimana hidup selalu berorientasi pada ukhrowi. Zahid yang kaya adalah menggunakan hartanya dijalan Allah dan Zahid yang miskin adalah dengan tetap bersabar dan istiqomah dijalan ketaatan. Jadi zuhud itu bersifat futuristik, efektif dan efisien menata kehidupan dunia untuk kebahagiaan akhirat.

Dalam psikologi, zuhud ini sama dengan orientasi masa depan, di mana seseorang harus memiliki tiga hal, yakni motivation, planning dan evaluation. Orang yang zuhud adalah orang yang berorientasi masa depan.

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗوَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Artinya: “Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An'am: 32)

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185).

Ia memiliki motivasi ilahiah yang serba ikhlas lillahi ta'ala dalam menjalani ibadah dan kehidupan, memiliki rencana hidup yang jelas lagi matang dan senantiasa dievaluasi (muhasabah) agar hidup progresif, produktif dan berkah berkelimpahan (man harakah barakah).

Dalam Kitab Nashaihul Ibad karya Syeikh Imam Nawawi Al Bantani dijelaskan bahwa cara berzuhud itu sesuai dari asal kata zuhud itu sendiri, yakni zai, ha dan dal, yaitu:

1. Bertambah terus amal ibadahnya untuk perbekalan kematiannya (زاد المعاد)

2. Menjadikan agama sebagai pedoman hidup (هدا للدين)

3. Kontinue dalam ketaatan (دوام علي الطاعة)

Semoga dengan berzuhud, kita akan meraih masa depan yang hakiki. Menjadikan dunia sebagai lahan persinggahan tuk menempuh kehidupan akhirat yang selamat dan abadi.

Oleh: Rakimin Al-Jawiy – Dosen Psikologi Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Editor: Daniel Simatupang