Cara Menyikapi Perbedaan Menurut KH Husein Muhammad

 
Cara Menyikapi Perbedaan Menurut KH Husein Muhammad
Sumber Gambar: Ilustrasi/Laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta – Perbedaan adalah sunatullah yang Allah berikan pada ciptaan-Nya. Perbedaan itu terlihat jelas pada fisik dan cara pandang, sehingga tercipta banyak hal baru yang disebabkan oleh perbedaan tersebut.

Dalam bukunya yang berjudul Al-Syariah Al-Islamiyah baina Al-Muhafidzin wa Al-Mujaddidin, Faruq Abu Zaid mengatakan bahwa:

أن مذاهب الفقه الاسلامى ليست سوى إنعكاس لتطور الحياة الاجتماعية فى العالم الاسلامى

“Mazhab-mazhab (aliran-aliran) keagamaan dalam fiqh Islam sejatinya adalah refleksi sosio-kultural mereka masing-masing.” (halaman 16)

KH Husein Muhammad mengatakan bahwasanya para imam pendiri mazhab merupakan orang yang paling toleransi di antara yang lain. Mereka lebih dapat menghargai pendapat orang lain, paling bisa menghargai pandangan orang lain, dan paling rendah hati.

Imam Abu Hanifah pernah berkata:

“Inilah yang terbaik yang bisa aku temukan dari eksplorasiku atas Kitab Allah dan Sunnah Nabi (Hadits). Jika ada temuan yang lebih baik, aku akan menghargainya.”

Sedang Imam Syafi’i mengatakan:

راينا صواب يحتمل الخطأ ورأي غيرنا خطأ يحتمل الصواب

“Pendapat kami benar, tetapi mengandung kemungkinan keliru. Pendapat orang lain keliru, tapi mengandung kemungkinan benar.”

“Perbedaan pemaknaan atas teks keagamaan atau bahkan teks-teks yang lain pada akhirnya perlu dicari jalan keluarnya melalui mekanisme yang paling baik dan sejalan dengan perintah al-Qur’ân, yakni dialog, ‘musyawarah’, dan cara-cara lain yang demokratis,” tulis Buya Husein dalam unggahan pribadinya.

Cara yang baik pasti akan menghasilkan solusi yang baik, mencari win-win solution, mencari kebenaran secara bersama-sama. Sangat tidak dibenarkan dengan mencari pembenaran diri, menyatakan jika pendapatnya lah yang paling benar, mencaci pendapat orang lain, lebih-lebih menggunakan kekerasan dan membunuh karakter.

“Tak ada yang paling dirugikan dan paling disengsarakan dari perseteruan, kesombongan diri dan tindakan kekerasan ini, kecuali warga dan bangsa muslim sendiri. Sebaliknya tak ada sikap dan cara yang paling memajukan, menyejahterakan dan membahagiakan masyarakat muslim, kecuali kebersamaan, saling menghargai dan rendah hati di antara mereka, sebagaimana diajarkan Tuhan dan Nabi serta para ulama generasi awal,” tutup Buya Husein.

Disadur dari KH Husein Muhammad


Editor: Daniel Simatupang