Ahmad Baso: Maulid Nabi, Bulan Konsolidasi Melanjutkan Warisan Wali

 
Ahmad Baso: Maulid Nabi, Bulan Konsolidasi Melanjutkan Warisan Wali

LADUNI.ID, Jakarta - Bulan Maulid, ingat pesan satu naskah Islam Nusantara ini dari tahun 1730-an: “Jangan sekali-kali membunuh warisan para Wali Songo keturunan Baginda Nabi SAW., dan pelanjut ilmunya Baginda Nabi untuk Islam Nusantara Berkemajuan”.

Ini suara Naskah Babad Sengkala koleksi British Library IOL Jav 36, f. 371r, baris 10-13:

P[e]jahipun Tuwan Sayid wonten ing Kartasura,
Rengkaning Jawa pada mimiti,
sedaning Sayid pan sinanjata saking Sang Nata karsane,
kathah ingkang muwus gage[n]tune dening ngemasi,

(tahun Jawa 1643/Des 1718-Nov 1719 M)

Gugurnya Tuan Sayid di Kartasura

Hancurnya Tanah Jawa kini sudah dimulai dari wafatnya Sang Sayid (keturunan Baginda Nabi SAW.) yang ditembak mati dengan bedil (senjata pemberian Kompeni Belanda) oleh sang raja (Pakubuwana I).

Orang-orang banyak pun mulai khawatir dan menyayangkan pembunuhan Tuan Sayid tersebut. Ini terjadi pada tahun Jawa 1643/1719 M.

Naskah ini mengingatkan orang-orang Nusantara agar menghormati dan jangan menyakiti para ulama-Sayid keturunan Baginda Nabi SAW.

Naskah ini mengingatkan jasa para waliyullah, terutama Kanjeng Sunan Giri yang disebut beberapa kali dalam naskah, agar ingat selalu warisan para Wali.

Para Sayid ulama keturunan Baginda Nabi itu adalah pelanjut ilmunya para Wali penyebar Islam di Nusantara sekaligus pembela Nusantara ini (amukti tanah Jawa, kata satu naskah Bali Lombok tentang misi para Wali itu).

Bayangkan: banyak ilmu bertebaran di dunia, tapi para Wali Songo yang mengajarkan  kepada orang-orang Nusantara (Muslim maupun non-Muslim) ilmu-ilmu yang berguna untuk agama, negeri dan bangsa kita.

Banyak guru yang mengajarkan agama Islam di dunia, tapi para Wali Songo mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam yang berberkah kepada orang-orang Nusantara (Muslim maupun non-Muslim) , yaitu ilmu-ilmu dan ajaran  yang berguna untuk negeri dan bangsa kita, bahkan barakah Islam itu mengangkat Nusantara sebagai kendaraan kesaktian (amukti) Islam rahmatan lil alamin.

Tapi mengapa ada orang Indonesia tega membunuh Sayyid pecinta Wali Songo dan NKRI (di masa lalu akibat kongkalikong penjajah Kompeni dengan feodalisme Mataram), malah membunuh warisan peradaban Wali Songo hingga kini, melupakannya, mengabaikannya, bahkan membuangnya ke keranjang sampah, dan tinggal hanya nama, seperti tengkorak hilang ruhnya? Nama kampus, nama-nama para Wali tapi suwung ilmune poro Wali? Bicara Islam Nusantara tapi kosong ilmune poro Wali?

Maka, ingat peringatan naskah ini: Rengkaning Jawa, Nusantara ini akan hancur kalau sudah membunuh barakahnya poro Wali keturunan Baginda Nabi itu… rusak dan hancur karena gurita kongkalikong feodalisme-kapitalisme neo-liberal.

Sebaliknya: Indonesia akan amukti kalau melanjutkan warisan resep kedigdayaan Din Arab Jawi para Wali (baca di buku Islam Nusantara dan Islamisasi Nusantara). Bulan Maulid, Bulan Konsolidasi Melanjutkan Warisan Para Wali keturunan Baginda Nabi Muhammad SAW. untuk Islam Nusantara Berkemajuan untuk rahmatan lil'alamin...

Mari hidupkan warisan ilmunya Wali Songo. Santri tanpa Wali Songo, NKRI loyo.

Barakah…