Biografi KH. Abdul Djalil Hamid Tayu

 
Biografi KH. Abdul Djalil Hamid Tayu

Daftar Isi Profil KH. Abdul Djalil Hamid Tayu

  1. Kelahiran
  2. Nasab
  3. Wafat
  4. Keluarga
  5. Pendidikan
  6. Mengajar di Madrasah
  7. Karier di NU
  8. Melawan Penjajah
  9. Sosok Penulis

Kelahiran

KH. Abdul Djalil Hamid Tayu atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Djalil lahir di Bulumanis Kidul, Margoyoso, Tayu, Pati. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Abdul Hamid dan Nyai Syamsiyah.

Nasab

KH. Abdul Djalil Hamid merupakan keturunan ke-8 dari KH. Mutamakkin Kajen, Pati.

Wafat

KH. Abdul Djalil Hamid meninggal dunia di Makkah Al-Mukarramah pada 16 Zulqo’dah 1394 H. bertepatan dengan 30 November 1974. ”Yang membantu mengurusi pemakaman Mbah Djalil di Makkah waktu itu adalah Prof. Dr. KH. Maghfur Usman,” lanjutnya menambahkan.

Prof. Maghfur Usman merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) asal Cepu, Blora yang pernah belajar di Madrasah TBS Kudus dan tercatat sebagai Mustasyar PBNU periode 2010-2015. ‘’Dulu kalau Prof Maghfur Usman berkesempatan hadir saat haul Mbah Djalil, beliau yang selalu membaca riwayat hidup Mbah Djalil,’’ tutur Hj. Roihanah.

Keluarga

Mbah Djalil melepas masa lajangnya dengan menikahi Siti Siryati binti KH. Adnan Bulumanis Kidul. Buah dari pernikahannya beliau dikaruniai seorang putri bernama Roudloh.

Sepeninggal istri pertama, Mbah Djalil menikah dengan Hj. Aminah Noor Binti KH. Noor Khudlrin, Baletengahan. Pernikahan dengan Hj. Aminah Noor ini, Mbah Djalil dikaruniai seorang putra, yaitu H. Hamdan Abdul Djalil.

“Mbah Djalil diambil menantu KH. Nur Chudlrin, pendiri TBS. Beliau juga merupakan salah satu guru di masdarasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) generasi pertama,” terang KH. Choirozyad seperti dilansir dari Suara Nahdliyin.

Pendidikan

Mbah Djalil memulai pendidikannya dengan belajar langsung kepada sang ayah hingga 1919, selanjutnya Abdul Djalil belajar di Pondok Jamsaren Solo asuhan KH. Idris (1919 – 1920), lalu meneruskan belajar ke Pondok Termas asuhan KH. Dimyati (1920-1921), kemudian di Pondok Kasingan Rembang asuhan KH. Cholil (1921-1924).

Selanjutnya, pada 1924-1926 Abdul Djalil muda mukim dan belajar di Makkah Al-Mukarramah, lalu melanjutkan belajar di Pondok Tebuireng Jombang di bawah asuhan langsung KH. Hasyim Asy’ari (1926-1927), dan kemudian kembali lagi ke Makkah pada 1927-1930.

Mengajar di Madrasah

Tak berselang lama dari pengembaraan intelektualnya yang cukup panjang, ia kemudian mengajar di Madrasah TBS. Di Madrasah TBS, KH. Abdul Djalil Hamid tercatat menjadi guru kepala pada 1932-1935.

Karier di NU

Selain di TBS, berbagai posisi penting pernah diembannya. Antara lain menjadi anggota Raad Agama Islam di Kudus (1934-1945), Ketua Pengadilan Agama Kudus (1950-an), Pembantu Khusus Wakil Perdana Menteri RI (1951-1958), hingga anggota DPR/ MPR mewakili alim ulama di Fraksi NU (1958-1967).

Untuk di bidang sosial, KH. Abdul Djalil Hamid di antaranya tercatat ikut mendirikan Madrasah Darul Ulum di Makkah (1927-1930), anggota pembina PBNU (1930 -1974), Ketua NU Cabang Kudus (1932-1934), Rois Syuriyah NU Jawa Tengah (1967- 1974), Katib Syuriyah PBNU (1954-1967), Ketua Tim Penentu Arah Qiblat Masjid Baiturrahman Semarang (1968), Penyusun Almanak NU (1930-1974) dan Ketua Lajnah Falakiyah PBNU merangkap Lajnah Falakiyah Departemen Agama RI (1969-1973).

Melawan Penjajah

Hj. Roihanah, menantu KH. Abdul Djalil Hamid yang ditemui di kediamannya di samping Masjid Alhamidiyyah Mlati, menceritakan, bahwa dalam perjalanannya, ayah mertuanya juga sempat di penjara.

Berdasarkan data yang disimpan pihak keluarga, KH. Abdul Djalil Hamid yang menjadi Komandan Gerilya melawan Belanda di Gunung Muria (1948-1949) itu di tahan Belanda di penjara Kudus pada 1949. Data itu juga menyebutkan, Mbah Djalil pernah ditahan di era pemerintahan Orde Lama di Salatiga pada 1952-1954.

Sosok Penulis

Perhatian KH. Abdul Djalil Hamid terhadap dunia keilmuan yang demikian tinggi, khususnya ilmu-ilmu agama, di tengah kesibukannya yang luar biasa, bisa dilihat dari berbagai karya (kitab) yang ditulisnya.

Berbagai karya Mbah Djalil, di antaranya Fath ar-Rouf al-Mannan, Rubu’ Mujayyab (Quadrant), Jadwal Rubu’, Dalil al-Minhaj, Tawajjuh, Tuhfah al-asyfiya’, Ahkam al-Fuqoha’ dan Takkalam bi al-Lughoh al-Arobiyah.

“Keseharian Bapak dulu sukanya membaca kitab, membaca buku dan menulis. Dulu juga sering mengajar ngaji di masjid ini (Masjid Al-Hamidiyah – Red). Dulu masjidnya masih sangat sederhana,’’ terang Hj. Roihanah didampingi putrinya, Nur Uswati.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya