Biografi KH. Ridwan Abdullah

 
Biografi KH. Ridwan Abdullah

Daftar Isi Profil KH. Ridwan Abdullah

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Aktif Mengajar
  5. Pencipta Lambang Nahdlatul Ulama
  6. Pejuang Melawan Penjajah
  7. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Ridwan Abdullah lahir pada 1 Januari 1884 di Bubutan Surabaya.

Wafat

KH. Ridwan Abdullah wafat pada tahun 1962 di usianya ke 78 tahun. Beliau lalu dimakamkan di Pemakaman Tembok Surabaya.

Pendidikan

Sesudah tamat dari Sekolah Dasar Belanda, KH. Ridwan Abdullah nyantri di beberapa pondok pesantren di Jawa dan Madura, di antaranya, Pondok Buntet Cirebon, Pondok Siwalan Panji Buduran Sidoarjo dan di Pesantren Syaikhona Cholil Bangkalan, Madura.

Di tahun 1901, KH. Ridwan Abdullah pergi ke tanah suci Makkah dan bermukim di sana selama kurang lebih tiga tahun. Di tahun 1911 beliau kembali lagi ke Mekkah dan bermukim di sana selama 1 tahun.

Aktif Mengajar

KH. Ridwan Abdullah tidak memiliki pesantren. Beliau adalah seorang pendakwah dan pengajar yang pindah sari satu tempat ke tempat yang lain. Dari satu desa ke desa yang lain, dari satu kampung ke kampung yang lain. Sewaktu KH. Wahab Chasbullah membentuk Nahdlatul Wathan, jauh sebelum NU lahir, Kiai Ridwan adalah pendamping utamanya. Bersama KH. Wahab, KH. Alwi dan KH. Mas Mansur, Kiai Ridwan aktif mengajar di Madrasah Nahdlatul Wathan.

Pencipta Lambang Nahdlatul Ulama

Nama KH. Ridwan Abdullah sendiri, dalam benak banyak orang khususnya warga Nahdliyyin, sangat erat dengan kontribusi beliau menciptakan lambang NU.

Awal mula dikenalnya lambang NU sendiri terjadi ketika perhelatan Muktamar kedua NU di Surabaya tanggal 9 Oktober 1927. Pada saat itu peserta muktamar dan seluruh warga Surabaya tertegun melihat lambang Nahdlatul Ulama yang dipasang tepat pada pintu gerbang Hotel Peneleh. Lambang itu masih asing karena baru pertama kali ditampilkan.

Untuk mengetahui arti lambang NU yang asing itu, lantas diadakanlah majelis khusus yang dipimpin oleh Kiai Raden Adnan dari Solo. Dalam majelis ini, pimpinan sidang meminta Kiai Ridwan Abdullah menjelaskan arti lambang Nahdlatul Ulama.

KH. Ridwan Abdullah juga menjelaskan bahwa sebelum menggambar lambang NU itu, beliau terlebih dahulu melakukan shalat istikharah, meminta petunjuk kepada Allah Swt. Hasilnya, beliau bermimpi melihat sebuah gambar di langit yang biru jernih. Bentuknya persis dengan gambar lambang NU yang kita lihat sekarang. Setelah mendengar penjelasan KH. Ridwan Abdullah, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari merasa puas. Kemudian beliau mengangkat kedua tangan sambil berdo’a. Setelah memanjatkan doa beliau berkata, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan harapan yang dimaksud di lambang Nahdatul Ulama.”

Pejuang Melawan Penjajah

Di masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, KH. Ridwan Abdullah ikut bergabung dalam barisan Sabilillah. Pengorbanan Kiai Ridwan Abdullah tidak sedikit, seorang puteranya yang menjadi tentara PETA (Pembela Tanah Air) gugur di medan perang.

Pada tahun 1948, beliau ikut berperang mempertahankan kemerdekaan RI hingga pasukannya dipukul mundur sampai ke Jombang.

Karya-Karya

Selain dikenal sebagai kiai yang alim, KH. Ridwan Abdullah juga dikenal sebagai ulama yang memiliki keahlian khusus dibidang seni lukis dan seni kaligrafi. Salah satu karya beliau adalah bangunan Masjid Kemayoran Surabaya. Kelak, dari tangan beliau, lambang Nahdlatul Ulama’ yang kita kenal sampai hari ini lahir dan melegenda.