Biografi Imam Bukhari

 
Biografi Imam Bukhari

Daftar Isi Profil Hidup Imam Bukhari

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Nasab
  4. Pendidikan
  5. Pujian Imam Bukhari di Berbagai Negeri
  6. Fitnah dari Kota Naisabur
  7. Di Usir dari Negerinya

Kelahiran

Muhammad bin Ismail atau yang kerap disapa dengan panggilan Imam Bukhari lahir pada hari Jum’at tanggal 13 Syawal 194 H di negeri Bukhara di tengah keluarganya yang cinta ilmu sunnah Nabi Muhammad Saw. Karena ayah beliau bernama Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah adalah seorang ulama Ahli hadits yang meriwayatkan hadits-hadits Nabi dari Imam Malik bin Anas, Hammad bin Zaid, dan sempat pula berpegang tangan dengan Abdullah bin Mubarak. Riwayat-riwayat Ismail bin Ibrahim tentang hadits Nabi tersebar di kalangan orang-orang Iraq.

Ayah Bukhari meninggal dunia ketika beliau masih kecil. Di saat menjelang wafatnya, Ismail bin Ibrahim sempat membesarkan hati anaknya yang masih kecil sembari menyatakan kepadanya: “Aku tidak mendapati pada hartaku satu dirham pun dari harta yang haram atau satu dirham pun dari harta yang syubhat.” Tentu anak yang ditumbuhkan dari harta yang bersih dari perkara haram atau syubhat akan lebih baik dan mudah dididik kepada yang baik. Sehingga sejak wafatnya sang ayah, Al-Bukhari hidup sebagai anak yatim dalam dekapan kasih sayang ibunya.

Wafat

Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari yang isinya meminta ia supaya menetap di negeri mereka. Maka kemudian ia pergi untuk memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil yang terletak dua farsakh sebelum Samarkand, dan desa itu terdapat beberapa familinya, ia pun singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi mereka.Tetapi di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit beberapa hari.

Nasab

Imam Al-Bukhari (Muhammad) bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah. Kakek (Zoroaster) sebagai agama asli orang-orang Persia yang menyembah api. Sang kakek tersebut meninggal dalam keadaan masih beragama Majusi. Putra dari Bardizbah yang bernama Al-Mughirah kemudian masuk Islam di bawah bimbingan gubernur negeri Bukhara Yaman Al-Ju’fi sehingga Al-Mughirah dengan segenap anak cucunya dinisbatkan kepada kabilah Al-Ju’fi. Dan ternyata cucu dari Al-Mughirah ini di kemudian hari mengukir sejarah yang agung, yaitu sebagai seorang Imam Ahlul Hadits.

Ia wafat pada malam Idhul Fitri tahun 256 H. (31 Agustus 870 M), dalam usia 62tahun kurang 13 hari. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Jenazahnya dikebumikan lepas dzuhur, hari raya Idhul Fitri, sesudah ia melewati perjalanan hidup panjang yang penuh dengan berbagai amal yang mulia. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya.

Perjalanan Menuntut Ilmu Beliau

Pendidikan Awal

Bukhari tak pernah mengenyam pendidikan dari ayahnya, karena dalam usia 5 tahun, ia telah yatim. Sejak kecil, Bukhari dibimbing dan dididik untuk mencintai ilmu, terutama melalui buku-buku peninggalan ayahnya sendiri. Disamping bersekolah sebagaimana anak muslim lainnya, di rumah ia menjadi kutu buku, berkat bimbingan ibunya.

Di usia 10 tahun, Muhammad Bukhari yang ditopang kecerdasan dan daya ingat yang di atas rata-rata anak yang lain, mulai menghafal dan menganalisa hadits dengan antusias. Beberapa tahun kemudian, ia merasa kurang dengan sekedar berguru di desa dan menggali buku peninggalan ayahnya. Untuk mengurangi rasa penasarannya dan keinginan yang kuat untuk menambah ilmu, Muhammad Bukhari mulai mendatangi tokoh-tokoh ahli hadits di sekitar desanya. Dalam usia 16 tahun, nama Muhammad bin Ismail Al Bukhori mulai dikenal khususnya di kalangan ulama hadits sebagai pemuda yang cerdas. Saat itu ia telah banyak menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an (menurut sumber lain menghafal seluruhnya) dan menghafal beberapa buku hadits yang ditulis oleh Imam Abdullah bin Al Mubarak dan Imam Waki’, yang terkenal sebagai ahli hadits pada masa itu.

Pendidikan Lanjut

Pada tahun 210H (menurut riwayat lain 216H), Muhammad Bukhari diajak ibunya untuk pergi haji. Ia menyambut gembira ajakan ini, karena apa yang selama ini ia idam-idamkan, yaitu berkelana mencari para ulama ahli hadits akan menjadi kenyataan dengan kepergiannya ke Mekkah. Saat musim haji tiba, Muhammad beserta saudaranya, Ahmad, berangkat menuju Mekkah. Kepergiannya kali ini dapat dikatakan awal perjalanan pengembaraannya mencari hadits.

Dan seperti yang telah diduga sebelumnya, ketika Ahmad dan ibunya kembali, Muhammad memilih untuk menetap lebih lama di Mekkah. Selama tinggal di Mekkah, Muhammad berguru kepada para ulama ahli hadits pada masa itu, seperti Al WalidAl AzraqiIsmail bin Salim dan lain-lain. Tak lama kemudian ia mengunjungi kota Madinah, untuk menemui para anak cucu sahabat Nabi SAW. Selama bermukim di Madinah setahun, ia sempat menulis dua buku yang berjudul Kitab Qadhaya Ash Shahabah wa At Tabi’in dan Kitab At Tariikh Al Kabiir. Kedua buku itu ditulis saat ia berusia 18 tahun, dan keduanya merupakan karya pertama dari penulis yang cukup produktif ini.

Berawal dari Mekkah dan Madinah, akhirnya Muhammad memulai pengembaraan panjangnya menemui para ulama hadits. Pada masa itu, pencarian hadits hingga ke kota bahkan negara lain telah dilakukan oleh para ulama, tapi Muhammad tercatat sebagai orang pertama yang lawatan dan pencariannya terluas. SyamBaghdadWshitBasrah, [[Kuffah], MesirMaruAsqalanReiMaisaburHimshaKhurasan dan masih banyak lagi daerah lain yang sempat dikunjunginya. Pengembaraan panjang yang terkadang hilir mudik ini, memakan waktu selama 16 tahun. Lebih dari seribu ahli hadits sempat ditemuinya, dan sekaligus menjadi guru dan perawi hadits yang dihimpunnya. Dari jumlah tersebut, dapat diklasifikasikan menjadi 5 kelompok, dan hampir kesemuanya termasuk ulama dan juga ahli hadits.

Selama masa perlawatan, Muhammad sempat menulis beberapa buku, khususnya mengenai permasalahan hadits yang disenanginya sejak kecil. Diantara buah tangannya adalah :

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Bukhari berkata : “Kutulis kitab ini dari 1.080 orang yang kesemuanya ahli hadits, dan kesemuanya mengatakan bahwa iman itu adalah kata dan perbuatan yang dapat bertambah dan berkurang. Kalau aku hendak menuliskan sebuah hadits di dalam kitab Shahih, maka sebelum memegang pena, aku mandi terlebih dahulu dan sholat 2 rakaat sebagai perwujudan rasa syukur kehadirat ilahi”. Pada masa berikutnya muncul ulama yang mensyarah (menerangkan maksud, memperjelas dan mengomentari) hadits yang termaktub di dalam kitab Shahih Bukhari. Hingga kini lebih dari 100 syarah telah disusun oleh para ulama.

Dari sekian banyak syarah, yang terkenal diantaranya adalah :

Dari semua kitab syarah yang ada, Fathu Al-Baari lah yang paling bagus, hingga digelari dengan “Raja Syarah Bukhari”. Selain syarah, masih terdapat beberapa kitab yang men-ta’liq (memberi komentar/penjelasan pada bagian-bagian tertentu). Dan ada juga yang meringkas atau yang biasa disebut dengan mukhtashar, seperti:

Kira-kira seabad setelah kitab Shahih Bukhari tersusun, muncullah segelintir ulama hadits yang mengkritik isi kitab tersebut. Diantaranya:

  • Al Daaraqutni (wafat 385 H)
  • Abu Ali Al Ghassani (wafat 365 H), dan lain-lain. Kritikan para ulama ini (yang tertuju tidak lebih dari 100 hadits) dari sudut pandang ilmu-ilmu hadits, yang menurut mereka, terdapat juga di dalamnya (Shahih Bukhari) hadits yang dhoif. Namun 3 abad setelah kritikan diatas, justru muncullah ulama hadits yang membela dan membantah kritikan ulama sebelumnya. Bahkan Ibnu Shalah (wafat 643 H) mengomentari kitab Shahih Bukhari sebagai afshah al-kutub ba’da Al-Qur’an (kitab yang paling shahih /otentik setelah Al- Qur’an).

Pendapat ini juga didukung oleh ulama setelahnya, seperti Imam Nawawi (wafat 852 H), Ibnu Hajar (wafat 852 H) dan lain-lain yang akhirnya menjadi kesepakatan jumhur ulama Ahlus Sunnah. Pada perkembangan selanjutnya, muncul bantahan atas kritik yang pernah ditujukan terhadap kitab Shahih Bukhari. Namun bersamaan dengan itu, muncul pula kritikan baru, baik dari para orientalis maupun umat Islam sendiri, seperti : Muhammad Al-Ghazali (bukan Imam Ghazali pengarang kitab Ihya, pen), Ahmad Amin, dan lain-lain. Yang perlu dicermati, terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara kritik ulama terdahulu dengan yang datang kemudian. Ulama terdahulu mengkritik dengan mengacu kepada ilmu-ilmu hadits, sedangkan pengkritik setelahnya dan terutama akhir-akhir ini, hanya berdasarkan logika atau juga akal mereka masing-masing.

Diakui ataupun tidak, baik secara langsung maupun tidak, sedikit banyak mereka terpengaruh dengan para orientalis atau pola pikir mereka. Terhadap kritikan ulama terdahulu pun, yang mengkritik sesuai dengan ilmu-ilmu hadits, menurut penyelidikan ulama sesudahnya tidak terbukti. Karena mereka mengembalikan dan mencocokkan kembali terhadap hadits-hadits yang dikritik. Mereka berkesimpulan bahwa seluruh hadits yang terdapat di kitab Shahih Bukhari semuanya adalah shahih. Dan satu hal lagi yang perlu kita ingat, kepopuleran Shahih Bukhari bukan muncul begitu saja dan sejak semula, tapi justru setelah mendapat kritik. Dengan kata lain, julukan yang akhirnya menjadi kesepakatan jumhur ulama hadits ini, lahir setelah mendapat pengujian dan pengujian lagi. Dan tentu saja setelah terbukti kritikan yang diarahkan kepadanya adalah tak berdasar, atau juga tidak tepat. Dalam masalah ini, H. Ali Mustafa Yaqub di dalam bukunya mengutip keterangan Imam Nawawi yang berkata : “Kritikan Daaraqutni dan yang lainnya itu hanyalah berdasarkan kritikan-kritikan yang ditetapkan oleh sejumlah ahli hadits yang justru dinilai lemah sekali ditinjau dari ilmu hadits.” Satu hal terpenting dalam urusan hadits adalah rawi atau periwayat suatu hadits.

Dari puluhan ribu hadits Rasulullah SAW yang sampai pada kita, kesemuanya melalui rawi berantai hingga kepada Nabi SAW. Pada umumnya, seluruh sahabat menerima hadits dari Nabi SAW, namun bervariasi dalam jumlah. Hal ini dikarenakan sebagian dari mereka ada yang tinggal di desa, ada yang sering berniaga atau bepergian, ada yang selalu meluangkan waktu di masjid dan lain-lain. Yang perlu kita ingat juga, hadits-hadits yang ada terbanyak diterima para sahabat dari ucapan atau tindakan Nabi yang disampaikan di berbagai tempat dan situasi. Sedang hadits yang diterima dalam suatu majlis resmi seperti khutbah Jum’at, ‘id dan sejenisnya adalah tergolong sedikit. Kesemua alasan diatas membuat mereka bervariasi dalam menerima jumlah hadits. Selain itu terdapat juga faktor-faktor tertentu yang membuat seseorang sahabat mendengar banyak hadits, diantaranya adalah : lebih dahulu masuk Islam, selalu menyertai Nabi, erat hubungannya dengan Nabi, kuat hafalannya, berusia lanjut sepeninggal Nabi, hingga mendengar juga hadits dari para sahabat dan lain-lain.

Dari sekian banyak Sahabat, yang terbanyak dalam meriwayatkan hadits adalah:
1. Abu Hurairah (19 SH – 59 H). Beliau meriwayatkan sebanyak 5.374 hadits, namun menurut penyelidikan terakhir, jumlah yang benar hanya 1.236. Sedang jumlah hingga lebih dari 5.000, termasuk jumlah jalur periwayatannya. Dari seluruh hadits yang diriwayatkannya, Imam Bukhari hanya mengambil 419 hadits (7,7% bila diyakini beliau meriwayatkan 5.374). Sedangkan prosentase hadits di kitab Shahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah adalah sekitar 6%.
2. Abdullah Ibnu Umar (10 SH – 73 H). Beliau meriwayatkan sebanyak 2.630 hadits, dan diambil oleh Imam Bukhari sebanyak 249 hadits (9,4%).
3. Malik bin Anas (10 SH – 93 H). Beliau meriwayatkan 2.286 hadits, sedangkan yang diambil oleh Imam Bukhari sebanyak 248 hadits (10%).
4. Aisyah (9 SH – 58 H). Beliau meriwayatkan 2.210 hadits, 248 diantaranya diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
5. Abdullah Ibnu Abbas (3 SH – 68 H). Beliau meriwayatkan 1.660 hadits, sedangkan yang dirawatakan oleh Imam Bukhari sebanyak 195 (11,7%).
6. Jabir bin Abdullah (6 SH – 78 H). Beliau meriwayatkan 1.540 hadits, sedangkan yang dirawatakan oleh Imam Bukhari sebanyak 86 hadits (5,5%).
7. Abu Sa’id Al Khudri (12 SH – 74 H). Beliau meriwayatkan 1.170 hadits, sedangkan yang dirawatakan oleh Imam Bukhari sebanyak 59 hadits (5%).

Ketujuh nama diatas, memang terkenal sebagai periwayat terbanyak, termasuk di dalamnya Shahih Bukhari. Sedangkan nama-nama yang lainnya yang juga diambil periwayatannya oleh Imam Bukhari diantaranya :

Sanad Keilmuan

Imam Bukhari berjumpa dengan sekelompk kalangan atba’ut tabi’in muda, dan beliau meriwayatkan hadits dari mereka, sebagaimana beliau juga meriwayatkan dengan jumlah yang sangat besar dari kalangan selain mereka. Dalam masalah ini beliau bertutur: aku telah menulis dari sekitar seribu delapan puluh jiwa yang semuanya dari kalangan ahlul hadits.

Guru-guru imam Bukhari terkemuka yang telah beliau riwayatkan haditsnya;

Penerus Keilmuan beliau

Al Hafidz Shalih Jazzarah berkata; ‘ Muhammad bin Isma’il duduk mengajar di Baghdad, dan aku memintanya untuk mendektekan (hadits) kepadaku, maka berkerumunlah orang-orang kepadanya lebih dari dua puluh ribu orang. Maka tidaklah mengherankan kalau pengaruh dari majelisnya tersebut menciptakan kelompok tokoh-tokoh yang cerdas yang meniti manhaj, di antara mereka itu adalah;

Karya dan Jasa beliau

Hasil karya beliau

Di antara hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut :

Pujian Imam Bukhari di Berbagai Negeri

Karya-karya beliau dalam bidang hadits terus mengalir dan beredar di dunia Islam. Kepiawaian beliau dalam menyampaikan keterangan tentang berbagai kepelikan di seputar ilmu hadits di berbagai majelis-majelis ilmu bersinar cemerlang sehingga beliau dipuji dan diakui keilmuannya oleh para gurunya dan para ulama yang setara ilmunya dengan beliau, lebih-lebih lagi oleh para muridnya. Beliau menimba ilmu dari seribu lebih ulama dan semua mereka selalu mempunyai kesan yang baik, bahkan kagum terhadap beliau.

Al-Imam Al-Hafidh Abil Hajjaj Yusuf bin Al-Mizzi meriwayatkan dalam kitabnya yang berjudul Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal beberapa riwayat pujian para ulama Ahli hadits dan sanjungan mereka terhadap Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Di antara beberapa riwayat itu antara lain ialah pernyataan Al-Imam Mahmud bin An-Nadhir Abu Sahl Asy-Syafi’i yang menyatakan: “Aku masuk ke berbagai negeri yaitu Basrah, Syam, Hijaz dan Kufah. Aku melihat di berbagai negeri tersebut bahwa para ulamanya bila menyebutkan Muhammad bin Ismail Al-Bukhari selalu mereka lebih mengutamakannya daripada diri-diri mereka.”

Karena itu majelis-majelis ilmu Al-Imam Al-Bukhari selalu dijejali ribuan para penuntut ilmu. Dan bila beliau memasuki suatu negeri, puluhan ribu bahkan ratusan ribu kaum Muslimin menyambutnya di perbatasan kota karena beberapa hari sebelum kedatangan beliau, telah tersebar berita akan datangnya Imam Ahlul Hadits, sehingga kaum Muslimin pun berjejal-jejal berdiri di pinggir jalan yang akan dilewati beliau hanya untuk sekedar melihat wajah beliau atau kalau bernasib baik, kiranya dapat bersalaman dengan beliau.

Al-Imam Muhammad bin Abi Hatim meriwayatkan bahwa Hasyid bin Ismail dan seorang lagi (tidak disebutkan namanya), keduanya menceritakan: “Para ulama Ahli Hadits di Bashrah di jaman Al-Bukhari masih hidup merasa lebih rendah pengetahuannya dalam hadits dibanding Al-Imam Al-Bukhari. Padahal beliau ini masih muda belia. Sehingga pernah ketika beliau berjalan di kota Bashrah, beliau dikerumuni para penuntut ilmu. Akhirnya beliau dipaksa duduk di pinggir jalan dan dikerumuni ribuan orang yang menanyakan kepada beliau berbagai masalah agama. Padahal wajah beliau masih belum tumbuh rambut pada dagunya dan juga belum tumbuh kumis.”

Baca Juga:   Biografi Abu Hanifah

Fitnah dari Kota Naisabur

Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dielu-elukan dan disanjung orang di mana-mana. Pujian penuh ketakjuban datang dari segala penjuru negeri, dan beliau dijadikan rujukan para ulama di masa muda belia. Di saat penuh kesibukan ibadah dan ilmu yang menghiasi detik-detik kehidupan Al-Bukhari, pada sebagian orang muncul iri dengki terhadap berbagai kemuliaan yang Allah limpahkan kepadanya.

Badai itu bermula dari kedatangan beliau pada suatu hari di negeri Naisabur dalam rangka menimba ilmu dari para imam-imam Ahli Hadits di sana. Kedatangan beliau ke negeri tersebut bukanlah untuk pertama kalinya. Beliau sebelumnya sudah berkali-kali berkunjung ke sana karena Nasaibur termasuk salah satu pusat markas ilmu sunnah. Lagi pula di sana terdapat guru beliau, seorang Ahli Hadits yang bernama Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli. Pada suatu hari tersebarlah berita gembira di Naisabur bahwa Muhammad bin Ismail Al-Bukhari akan datang ke negeri tersebut untuk tinggal padanya beberapa lama.

Bahkan Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli mengumumkan secara khusus di majelis ilmunya dengan menyatakan: “Barangsiapa ingin menyambut Muhammad bin Ismail besok, silakan menyambutnya karena aku akan menyambutnya.” Maka masyarakat luas pun bergerak mengadakan persiapan untuk menyambut kedatangan Imam besar Ahli Hadits di kota mereka.

Di hari kedatangan Imam Al-Bukhari itu, ribuan penduduk Naisabur bergerombol di pinggir kota untuk menyambutnya. Di antara yang berkerumun menunggu kedatangan beliau itu ialah Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli bersama para ulama lainnya. Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ya’qub Al-Akhram bahwa ketika Al-Bukhari sampai di pintu kota Naisabur, yang menyambutnya sebanyak empat ribu orang berkuda, di samping yang menunggang keledai dan himar serta ribuan pula yang berjalan kaki.”

Imam Muslim bin Al-Hajjaj menceritakan: “Ketika Muhammad bin Ismail datang ke Naisabur, semua pejabat pemerintah dan semua ulama menyambutnya di batas negeri.”

Ketika Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari sampai di Naisabur, para penduduk menyambutnya dengan penyambutan yang demikian besar dan agung. Beribu-ribu orang berkerumun di tempat tinggal beliau setiap harinya untuk menanyakan kepada beliau berbagai masalah agama dan khususnya berbagai kepelikan tentang hadits. Akibatnya berbagai majelis ilmu para ulama yang lainnya menjadi sepi pengunjung. Dari sebab ini mungkin timbul ketidakenakan di hati sebagian ulama itu terhadap Al-Bukhari.

Di hari ketiga kunjungan beliau ke Naisabur, terjadilah peristiwa yang amat disesalkan itu. Diceritakan oleh Ahmad bin Adi peristiwa itu terjadi sebagai berikut:

Telah menceritakan kepadaku sekelompok ulama bahwa ketika Muhammad bin Ismail sampai ke negeri Naisabur dan orang-orang pun berkumpul mengerumuninya, maka timbullah kedengkian padanya dari sebagian ulama yang ada pada waktu itu. Sehingga mulailah diberitakan kepada para ulama Ahli hadits bahwa Muhammad bin Ismail berpendapat bahwa lafadh beliau ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk.

Pada suatu majelis ilmu, ada seseorang berdiri dan bertanya kepada beliau: “Wahai Abu Abdillah (yakni Al-Bukhari), apa pendapatmu tentang orang yang menyatakan bahwa lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk? Apakah memang demikian atau lafadh orang yang membaca Al-Qur’an itu bukan makhluk?”

Mendengar pertanyaan itu, beliau berpaling karena tidak mau menjawabnya. Akan tetapi si penanya mengulang-ulang terus pertanyaannya hingga sampai ketiga kalinya seraya memohon dengan sangat agar beliau menjawabnya. Al-Bukhari pun akhirnya menjawab dengan mengatakan: “Al-Qur’an kalamullah (perkataan Allah) dan bukan makhluk. Sedangkan perbuatan hamba Allah adalah makhluk, dan menguji orang dalam masalah ini adalah perbuatan bid’ah.”

Dengan jawaban beliau ini, si penanya membikin ricuh di majelis dan mengatakan tentang Al-Bukhari: “Dia telah menyatakan bahwa lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk.” Akibatnya orang-orang di majelis itu menjadi ricuh dan mereka pun segera membubarkan diri dari majelis itu dan meninggalkan beliau sendirian. Sejak itu Al-Bukhari duduk di tempat tinggalnya dan orang-orang pun tidak lagi mau datang kepada beliau.”

Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Ghalib dengan sanadnya dari Muhammad bin Khasynam menceritakan: “Setelah orang meninggalkan Al-Bukhari, orang-orang yang meninggalkan beliau itu sempat datang kepada beliau dan mengatakan: “Engkau mencabut pernyataanmu agar kami kembali belajar di majelismu.” Beliau menjawab: “saya tidak akan mencabut pernyataan saya kecuali bila mereka yang meninggalkanku menunjukkan hujjah (argumentasi) yang lebih kuat dari hujjahku.”

Kata Muhammad bin Khasynam: “Sungguh aku amat kagum dengan tegarnya dan kokohnya Al-Bukhari dalam berpegang dengan pendirian.”

Kaum Muslimin di Naisabur gempar dengan kejadian ini dan akhirnya arus fitnah melibatkan pula Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli sehingga beliau menyatakan di majelis ilmu beliau yang kini telah ramai kembali setelah orang meninggalkan majelis Al-Bukhari: “Ketahuilah, sesungguhnya siapa saja yang masih mendatangi majelis Al-Bukhari, dilarang datang ke majelis kita ini. Karena orang-orang di Baghdad telah memberitakan melalui surat kepada kami bahwa orang ini (yakni Al-Bukhari) mengatakan bahwa lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk.Kata mereka yang ada di Baghdad bahwa Al-Bukhari telah dinasehati untuk jangan berkata demikian, tetapi dia terus mengatakan demikian. Oleh karena itu, jangan ada yang mendekatinya dan barangsiapa mendekatinya maka janganlah mendekati kami.”

Tentu saja dengan telah terlibatnya Imam Adz-Dzuhli, fitnah semakin meluas. Hal ini terjadi karena Adz-Dzuhli adalah imam yang sangat berpengaruh di seluruh wilayah Khurasan yang beribukota di Naisabur itu.

Bahkan lebih lanjut Al-Imam Adz-Dzuhli menegaskan: Al-Qur’an adalah kalamullah (yakni firman Allah) dan bukan makhluk dari segala sisinya dan dari segala keadaan. Maka barangsiapa yang berpegang dengan prinsip ini, sungguh dia tidak ada keperluan lagi untuk berbicara tentang lafadhnya ketika membaca Al-Qur’an atau omongan yang serupa ini tentang Al-Qur’an.

Barangsiapa yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka sungguh dia telah kafir dan keluar dari iman, dan harus dipisahkan dari istrinya serta dituntut untuk taubat dari ucapan yang demikian. Bila dia mau taubat maka diterima taubatnya. Tetapi bila tidak mau taubat, harus dipenggal lehernya dan hartanya menjadi rampasan Muslimin serta tidak boleh dikubur di pekuburan kaum Muslimin. Dan barangsiapa yang bersikap abstain dengan tidak menyatakan Al-Qur’an sebagai makhluk dan tidak pula menyatakan Al-Qur’an bukan makhluk, maka sungguh dia telah menyerupai orang-orang kafir.

Barangsiapa yang menyatakan “lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk”, maka sungguh dia adalah Ahli Bid’ah (yakni orang yang sesat). Tidak boleh duduk bercengkrama dengannya dan tidak boleh diajak bicara. Oleh karena itu, barangsiapa setelah penjelasan ini masih saja mendatangi tempatnya Al-Bukhari, maka curigailah ia karena tidaklah ada orang yang tetap duduk di majelisnya kecuali dia semadzhab dengannya dalam kesesatannya.”

Dengan pernyataan Adz-Dzuhli seperti ini, berdirilah dari majelis itu Imam Muslim bin Hajjaj dan Ahmad bin Salamah. Bahkan Imam Muslim mengirimkan kembali kepada Adz-Dzuhli seluruh catatan riwayat hadits yang didapatkannya dari Imam Adz-Dzuhli, sehingga dalam Shahih Muslim tidak ada riwayat Adz-Dzuhli dari berbagai sanad yang ada padanya.

Sikap Imam Muslim bin Hajjaj dan Ahmad bin Salamah yang seperti itu menyebabkan Adz-Dzuhli semakin marah sehingga beliau pun menyatakan: “Orang ini (yakni Al-Bukhari) tidak boleh bertempat tinggal di negeri ini bersama aku.” Kemarahan Adz-Dzuhli seperti ini sangat menggusarkan Ahmad bin Salamah, salah seorang pembela Al-Bukhari. Dia segera mendatangi Al-Bukhari seraya mengatakan: “Wahai Abu Abdillah (yakni Al-Bukhari), orang ini (yakni Adz-Dzuhli) sangat berpengaruh di Khurasan, khususnya di kota ini (yakni kota Naisabur). Dia telah terlalu jauh dalam berbicara tentang perkara ini sehingga tak seorang pun dari kami bisa menasehatinya dalam perkara ini. Maka bagaimana pendapatmu?”

Al-Imam Al-Bukhari amat paham kegusaran muridnya ini sehingga dengan penuh kasih sayang beliau memegang jenggot Ahmad bin Salamah dan membaca surat Ghafir 44 yang artinya: “Dan aku serahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”

Kemudian beliau menunduk sambil berkata: “YA Allah, sungguh Engkau tahu bahwa aku tinggal di Naisabur tidaklah bertujuan jahat dan tidak pula bertujuan dengan kejelekan. Engkau juga mengetahui ya Allah, bahwa aku tidak mempunyai ambisi untuk memimpin.Hanya saja karena aku terpaksa pulang ke negeriku karena para penentangku telah menguasai keadaan. Dan sungguh orang ini (yakni Adz-Dzuhli) membidikku semata-mata karena hasad (dengki) terhadap apa yang Allah telah berikan kepadaku daripada ilmu.”

Wajah beliau sendu menyimpan kekecewaan yang mendalam. Dan dia menatap Ahmad bin Salamah dengan mantap sambil berkata: “wahai Ahmad, aku akan meninggalkan Naisabur besok agar kalian terlepas dari berbagai problem akibat omongannya (yakni omongan Adz-Dzuhli) karena sebab keberadaanku.” Segera setelah itu Al-Bukhari berkemas-kemas untuk mempersiapkan keberangkatannya besok kembali ke negeri Bukhara.

Rencana Al-Bukhari untuk pulang ke negeri Bukhara sempat diberitakan oleh Ahmad bin Salamah kepada segenap kaum Muslimin di Naisabur, tetapi mereka tidak ada yang berselera untuk melepasnya di batas kota. Sehingga Al-Imam Al-Bukhari dilepas kepulangannya oleh Ahmad bin Salamah saja dan beliau berjalan sendirian menempuh jalan darat yang jauh menuju negerinya yaitu Bukhara. “Selamat tinggal Naisabur, rasanya tidak mungkin lagi aku berjumpa denganmu.”

Baca Juga:   Biografi Hammad bin Abi Sulaiman

Di Usir dari Negerinya

Di negeri Bukhara telah tersebar berita bahwa Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari sedang menuju Bukhara. Penduduk Bukhara melakukan berbagai persiapan untuk menyambutnya di pintu kota. Bahkan diceritakan oleh Ahmad bin Mansur Asy-Syirazi bahwa dia mendengar dari berbagai orang yang menyaksikan peristiwa penyambutan Al-Bukhari di negeri Bukhara, dikatakan bahwa masyarakat membangun gapura penyambutan di tempat yang berjarak satu farsakh (kurang lebih 5 km) sebelum masuk kota Bukhara.

Dan ketika Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari telah sampai di gapura “selamat datang” tersebut, beliau mendapati hampir seluruh penduduk negeri Bukhara menyambutnya dengan penuh suka cita, sampai-sampai disebutkan bahwa penduduk melemparkan kepingan emas dan perak di jalan yang akan diinjak oleh telapak kaki Al-Bukhari. Mereka berdiri di kedua sisi jalan masuk kota Bukhara sambil berebut memberikan buah anggur yang istimewa kepada sang Imam Ahlul Hadits yang amat mereka cintai itu.

Tetapi suka cita penduduk negeri Bukhara ini tidak berlangsung lama. Beberapa hari setelah itu para ahli fikih mulai resah dengan beberapa perubahan pada cara beribadah orang-orang Bukhara. Yang berlaku di negeri tersebut adalah madzhab Hanafi, sedangkan Al-Bukhari mengajarkan hadits sesuai dengan pengertian Ahli Hadits yang tidak terikat dengan madzhab tertentu sehingga yang nampak pada masyarakat ialah sikap-sikap yang diajarkan oleh Ahli Hadits, dan bukan pengamalan madzhab Hanafi.

Orang dalam beriqamat untuk shalat jamaah tidak lagi menggenapkan bacaan qamat seperti adzan, tetapi membaca qamat dengan satu-satu sebagaimana yang ada dalam hadits-hadits shahih. Ketika bertakbir dalam shalat semula tidak mengangkat tangan sebagaimana madzhab Hanafi, sekarang mereka bertakbir dengan mengangkat tangan.

Dengan berbagai perubahan ini keresahan para ulama fiqih tambah menjadi-jadi sehingga tokoh ulama fiqih di negeri tersebut yang bernama Huraits bin Abi Wuraiqa’ menyatakan tentang Al-Imam Al-Bukhari: “Orang ini pengacau. Dia akan merusakkan kehidupan keagamaan di kota ini. Muhammad bin yahya telah mengusir dia dari Naisabur, padahal dia imam Ahli Hadits.” Maka Huraits dan kawan-kawannya mulai berusaha untuk mempengaruhi gubernur Bukhara agar mengusir Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari ini. Gubernur negeri ini yang bernama Khalid bin Ahmad As-Sadusi Adz-Dzuhli.

Gubernur Khalid pernah meminta Al-Bukhari untuk datang ke istananya guna mengajarkan kitab At-Tarikh dan Shahih Al-Bukhari bagi anak-anaknya. Tetapi Al-Imam Al-Bukhari menolak permintaan gubernur tersebut dengan mengatakan: “Aku tidak akan menghinakan ilmu ini dan aku tidak akan membawa ilmu ini dari pintu ke pintu. Oleh karena itu bila anda memerlukan ilmu ini, maka hendaknya anda datang saja ke masjidku, atau ke rumahku. Bila sikapku yang demikian ini tidak menyenangkanmu, engkau adalah penguasa. Silakan engkau melarang aku untuk membuka majelis ilmu ini agar aku punya alasan di sisi Allah di hari kiamat bahwa aku tidaklah menyembunyikan ilmu (tetapi dilarang oleh penguasa untuk menyampaikannya).”

Tentu gubernur Khalid dengan jawaban ini sangat kecewa. Maka berkumpulah padanya penghasutan Huraits bin Abil Wuraqa’ dan kawan-kawan serta kekecewaan pribadi gubernur ini. Huraits dan gubernur Khalid akhirnya sepakat untuk membikin rencana mengusir Muhammad bin Ismail dari Bukhara. Lebih-lebih lagi telah datang surat dari Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli dari Naisabur kepada gubernur Khalid bin Ahmad As-Sadusi Adz-Dzuhli di Bukhara yang memberitakan bahwa Al-Bukhari telah menampakkan sikap menyelisihi sunnah Nabi shallallahu `alaihi wa sallam. Dengan demikian matanglah rencana pengusiran Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dari negeri Bukhara.

Upaya pengusiran itu bermula dengan dibacakannya surat Muhammad bin yahya Adz-Dzuhli di hadapan segenap penduduk Bukhara tentang tuduhan beliau kepada Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari bahwa beliau telah berbuat bid’ah dengan mengatakan bahwa “lafadhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk”. Tetapi dengan pembacaan surat, penduduk Bukhara pada umumnya tidak mau peduli dengan tuduhan tersebut dan terus memuliakan Al-Imam Al-Bukhari.

Namun gubernur Khalid akhirnya mengusirnya dengan paksa sehingga Al-Imam Al-Bukhari sangat kecewa dengan perlakuan ini. Dan sebelum keluar dari negeri Bukhara, beliau sempat mendoakan celaka atas orang-orang yang terlibat langsung dengan pengusirannya. Ibrahim bin Ma’qil An-Nasafi menceritakan: “Aku melihat Muhammad bin Ismail pada hari beliau diusir dari negeri Bukhara, aku mendekat kepadanya dan aku bertanya kepadanya: “Wahai Abu Abdillah, apa perasaanmu dengan pengusiran ini?” Beliau menjawab: “Aku tidak peduli selama agamaku selamat.” Al-Bukhari meninggalkan Bukhara dengan penuh kekecewaan dan dilepas penduduk Bukhara dengan penuh kepiluan. Beliau berjalan menuju desa Bikanda kemudian berjalan lagi ke desa Khartanka, yang keduanya adalah desa-desa negeri Samarkan.

Baca Juga:   Biografi Imam Malik bin Anas

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya